Sabtu, 14 Juli 2007

DAU, Uang Umat untuk Karyawan Depag

Tepat pertengahan Juni lalu, Kepolisian RI memberi kabar penting. Tim Penyidik Markas Besar Polri memblokir Dana Abadi Umat (DAU) dan dana kesejahteraan karyawan Departemen Agama. Jumlahnya sekitar Rp. 680 miliar.

Pemblokiran, kata Juru Bicara Polri Brigjen Pol. Soenarko, dilakukans etelah tim penyidik bersama tim audit Badan Pengawan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) melakukan audit investigasi penyelenggaraan haji di Jeddah, Arab Saudi. Ini menindaklanjuti berbagai temuan Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tim Tas Tipikir) terhadap Departemen Agama.

Perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Tim Tas Tipikor untuk mengambil langkah hukum terhadap dugaan penyelewengan dan di badan-badan pemerintah. Tak tanggaung-tanggung, Presiden menyebut 16 BUMN, empat departemen, tiga pihak swasta dan 12 koruptor yang melarikan diri ke luar negeri yang harus diburu. Berita yang dikabarkan Polri jadi bukti keseriusan para penegak hukum atas dalam melakukan perintah SBY.

DAU dikumpulkan berdasarkan Keputusan Presiden No. 22/2001 yang dikeluarkan bekas presiden Abdurrahman Wahid. Dana diperoleh dari hasil efisiensi biaya penyelenggaraan ibadah haji dan dari sumber lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pengadaan DAU ini dilakukan sejak zaman Tarmizi Taher. Sejak awal, hanya bunga dari dana ini yang boleh digunakan. Dana pokoknya tak boleh dipakai.

Dana ini masuk kategori non-APBN dan dikelola oleh sebuah badan yang diketuai oleh Menteri Agama. Pengelolaan dana diamanatkan untuk umat dalam bidang, antara lain pendidikan, dakwah, kesehatan, sosial, ekonomi, pembangunan sarana dan prasarana ibadah, serta penyelenggaraan ibadah haji.

Pada era Tolchah Hasan, pendapatan bunga DAU sekitar Rp. 3 miliar per bulan. Menurut pengakuan Tolchah menjawab pertanyaan wartawan tentang kabar dirinya akan turut diperiksa, dana itulah yang biasanya dibagikan untuk membantu masjid, madrasah dan lainnya.

Malik Fajar, penerus Tolchah, mengaku tidaklah mudah menggunakan DAU. Sebab, setiap pengeluaran di atas Rp. 1 miliar harus seizin Presiden.

Dalam laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), tahun 2001 adalah tahun dimana terjadi penyimpangan pengelolaan dana abadi yang terbesar yakni Rp 13,4 miliar. Sementara untuk tahun-tahun sebelumnya, 2002 dan 2001, jumlahnya lebih kecil yakni Rp. 3,5 miliar dan Rp. 1,4 miliar.

Tiga tahun penuh ‘penyelewengan’ ini yang menyeret bekas Direktur Jeneral Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji Taufik Kamil. Taufiklah orang pertama yang masuk ke dalam daftar tersangka yang disusun oleh Tim Tas Tipikor. Sejak tanggal 17 Juni 2005, Taufik resmi jadi salah satu tersangka yang ditahan di ruang tahanan Mabes Polri. Penahan dilakukan satu hari setelah bekas Metneri Agama Sayid Aqil al-Munawwar, juga resmi jadi tersangka utama ke dua kasus yang sama.

Sementara, Sayyid Aqil jadi salah satu tersangka setelah audit investigatif BPK menemukan 11 penyimpangan BPIH pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam senilai Rp. 59,8 miliar. Tak hanya itu, Sayyid Aqil juga dicurigai telah menyimpangkan dana dapa Bidang Urusan Haji di Jeddah senilai Rp. 49,33 miliar. Banyak bagian yang ‘ditangani’ Sayyid Aqil. Pertama kontrak sewa jaringan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat). Sayyid Aqil kemungkinan telah ‘melebihkan’ perhitungan sewa kontrak sebesar US$ 7380. Biaya sewa komunikasi lebih mahal dibanding provider lain yang menyebabkan potensi kerugian negara dari kontrak Siskohat sebesar Rp. 638,11 juta.

Untuk transportasi, tim BPK juga menemukan keterlibatan Sayyid Aqil dalam penambahan biaya udara US$ 32 per jamaah. Jika diakumulasi, maka nilai mark up mencapai Rp. 22 miliar untuk seluruh jamah. Ada pula sisa kursi sebanyak 1336 seat senilai US$ 1691,59 yang tidak diketahui peruntukannnya serta kelebihan bayar US$ 1440 kepada Garuda.

Urusan pemondokan pun, Sayyid Aqil dinyatakan terlibat. Ini didasari pada laporan keuangan Bidang Urusan Haji Konsulat Jenderal RI di Jeddah untuk biaya pemondokan, katering, dan transportasi jamaah haji. Kemana dana itu pergi? Rupanya, Taufik yang kemudian mengalihkannya untuk kegiatan abadi internal Departemen Agama, antara lain untuk kesejahteraan karyawan. Dan itu, terjadi kala Sayyid Aqil menjabat sebagai Menteri Agama.

Atas segala tindakan penyelewengan itu, Taufik dikenai dakwaan melanggar UU Antikorupsi Nomor 30 Tahun 1999 dan UU Nomor 20 Tahun 2001. Dakwaan yang sama juga ditimpakan kepada bekas atasnnya, Sayyid Aqil. Belakangan, 23 Juni 2005, bekas petinggi keturunan Arab itu harus rela 'bergabung' dengan Taufik di ruang tahanan Mabes Polri. Polisi menahannya setelah melakukan pemeriksaan selama kurang lebih 11 jam di hari yang sama.

Tak ingin jadi pesakitan dalam kasus ini, Sayyid Aqil dan Taufik akhirnya saling lempar tanggungjawab. Menurut Taufik, "Sayyid Aqil paling bertanggungjawab dalam pembuatan keputusan Menteri Agama. Pembuatan keputusan Menteri Agama sesuai prosedur. Direktur Jenderal tidak mungkin melawan atasannya." Sementara, menurut Syyid Aqil, "Taufik mengabaikan kepercayaan Menteri Agama. (Disana) hanya tertera tanda tangan DIrektu Jenderal Bina Masyarakat Islam dan Urusan Haji, Taufik Kamil, tanpa tanda tangan Menteri AGama dan Sekretaris Jenderal. Keputusan Menteri Agama cacat hukum."

Sayyid juga 'tak lupa' melempar bola panas ke tangan pejabat-pejabat lain. Dalam pemeriksaan sebelum penahanan, pengacaranya, Ayuk F. Shahab, menyebut bekas anggota DPR sebagai penerima rutin DAU untuk naik haji. Mereka antara lain Jusuf Kalla dan istri, Hatta Radjasa dan istri, Bachtiar Chamsyah dan puterinya, Akbar Tandjung beserta istri, dan Syamsul Mu'arif beserta istri.

Tertuding, seluruhnya, mengaku tidak tahu kalau saat Depag memberangkatkan mereka ke Mekkah menggunakan dana umat. "Saya berangkat juga karena jadi amirulhaj," tegas Jusuf Kalla.

Belakangan, bukan kalangan DPR saja yang harus 'gerah' dengan pernyataan kuasa hukum Sayyid Aqil. Tim Tas Tipikor juga menemukan setoran dana dari rekening DAU ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Selama tiga tahun, BPK menerima Rp. 2,01 miliar plus US$ 25600 yang diberikan dalam delapan ali setoran.

Setoran-setoran itu pun berpola sama. Awalnya, ada permintaan BPK agar departemen yang diperiksa menyetor ke Yayasan BPK sebagai pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dan melaporkannya ke Sekretaris Jenderal BPK. Kedua, ada setoran itu bersifat langsung tanpa permintaan resmi BPK atau transfer ke rekening BPK di kantor kas negara.

Kisah ini belum berakhir. Tim Tas Tipikor harus rela kerja rodi untuk menelisik lebih jauh lagi. Tunggu saja, ada kejutan apa lagi dari tim besutan Presiden ini.

Wah hancur bangat klo sempat seorang menteri agama koruptor tapi itulah indonesia Hanya kekuatan agama aja yang di anggarkan. gimana ngak ngikut instansi kenegaraan yang lain menghisap uang rakyat sedangkan Menteri Agama sendiri Memakan Uang rakyat.
Sangat Memalukan.

Arti Sebuat Kehidupan

Kehidupan merupakan sesuatu yang paling hakiki di dunia ini tetapi tidak jarang manusia menyia-nyiakan kehidupanya

Jumat, 13 Juli 2007

PASOMAL-SOMAL MADIRIM MANGULAHON HADAULATON
1 TIMOTIUS : 7
Firman Tuhan yang tertulis di dalam timotius yang membuat saya ingin kembali berbalik kepada jalan yang telah di Kasih oleh Tuhan Yesus kepada saya karena saya yakin bahwa yesus adalah sumber dari segala kekuatan dan berkat makanya saya selalu memuji dan memuliakan nama-Nya
dan sebagai sumber berkat yang tak henti-hentinya ada dalam hidup ku mengalir seperti sungai dan berbuah lebat seperti pohon yang tumbuh didekat sungai tersebut.
Yesus yang selalu mengenalku dan mengerti diriku dan seperti apapun aq dia selalu menerima aku dan memberi aq pengharapan dan berkat terima kasih yesus ku
aq mencintaiumu........



Minggu Ke-6 Sesudah Pentakosta
Sesudah Pentakosta Minggu Pentakosta dirayakan selama 26 Minggu. Masa ini disebut masa Gereja berjuang. Ada yang menyatakan bahwa sesudah minggu Trinitatis sudah tidak ada lagi hari raya. Sebenarnya, masih ada yaitu hari Minggu. Di mana melalui setiap hari Minggu, Gereja diingatkan tentang penyertaan Tuhan di dalam perjuangan hidup Gereja, Allah selalu beserta dengan Gereja-Nya (Allah beserta kita) itulah perayaan yang besar dan yang penuh puji-pujian dan syukur.

Arti
Pada mulanya dalam sejarah Gereja, perahu merupakan simbol dari Gereja. Ide ini menjadi berarti bagi orang Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan dan pergumulan, ketika mereka mengetahu bahwa akan ada pertolongan dari Tuhan.
Hal ini nyata lewat perpaduan antara perahu dan pelangi. Di sini janji Allah tentang pertolongan-Nya itu mendapat penekanan yang kuat. Pelangi melambangkan kesetiaan Allah atas janji-Nya untuk memelihara bumi, dalam hal ini Gereja.
Burung merpati dengan ranting zaitun di paruhnya mengungkapkan tentang janji keselamatan dan kehidupan dari Allah (band. Kel. 8:10-11) yang akan terus menyertai sampai ke tempat tujuan. Jadi sekalipun Gereja mengalami berbagai ancaman goncangan dan cobaan, Gereja akan tetap hidup di dalam dan oleh janji Allah tersebut.

Kesaksian Muslimah yang Masuk Kristen

TUHAN TELAH MEMBUKA MATAKU






Oleh : Kartini A. I.
Kesaksian ini ditulis dengan harapan apa yang saya alami, kiranya bisa menjadi berkat baik bagi mereka yang telah percaya maupun yang belum percaya.

Sebelum saya percaya kepada Isa Almasih sebagai Tuhan dan Juruselamat, saya adalah seorang Muslimah, berlatar belakang dari keluarga Muslim dan dibesarkan di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Sukabumi Jawa Barat. Dari apa yang saya yakini dan pelajari selama itu, saya tumbuh menjadi seorang Muslimah yang fanatik dan anti-Kristen, dan menjebak bahkan mendebat orang Kristen paling hobi.

Berteriak-teriak di depan gereja dengan bilang: "Maria, dipanggil Yesus cuek saja" pun pernah saya lakukan. Karena saya merasa bahwa apa yang saya yakini waktu itu, adalah paling benar dan diridhoi Allah SWT, sesuai dengan Qs. Ali Imran 19 yang berbunyi: Innaddinna indallaahil Islam (Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam)

Di luar Islam semuanya saya anggap sesat, apa lagi orang Kristen, kafir, karena Allahnya ada tiga : Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Roh Kudus. Tapi alhamdullilah saya tidak pernah sampai membunuh orang Kristen.

Dan mengapa saya bisa percaya kepada Isa Almasih sebagai Tuhan dan Juruselamat ? Walaupun saya bangga dengan apa yang saya yakini dulu, tapi kalau bicara tentang hari penghakiman, itu paling takut dan paling ngeri karena saya tidak tahu pasti, kalau saya mati mendapat rahmnat Allah (masuk surga) atau laknat Allah (masuk neraka), karena saya manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan dosa.

Dari Sukabumi saya hijrah ke Bandung untuk belajar ketrampilan. Di kota kembang ini saya tinggal di pondokan atau kost. Teman-teman saya kebanyakan orang Kristen dan kebiasaan saya yang dulu tidak pernah berubah, menjebak dan mendebat orang Kristen masih sering saya lakukan dan saya tetap benci pada orang Kristen.
Entah kenapa suatu hari saya ingin membaca Alkitab punya teman dan di kitab Kejadian ada tertulis "Allah menciptakan manusia dari tanah..." saya heran, kok sama dengan Al Qur'an, padahal Injil itu kan sudah dipalsukan dsbnya, dan orang Kristen sekarang itu 'kafir'.

Berawal dari penasaran itu saya mencari teman untuk pergi ke gereja. Saya ingin tahu dan ingin menyelidiki bagaimana orang Kristen beribadah. Benar saya masuk gereja dan pertama itu saya tidak bisa menahan rasa haru dan sedih, saya menangis hingga kebaktian selesai, batin saya berontak antara dosa murtad dan percaya, murtad karena masuk gereja dan percaya kepada Tuhan.

Minggu-minggu berikutnya, saya selalu ingin dan rindu untuk datang ke gereja lagi, dan selama empat bulan saya suka ke gereja, tapi selama itu saya tidak mau berdoa dalam nama Yesus atau Isa Al-Masih, saya percaya kepada Allah tapi tidak percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan sebagai Anak Allah karena saya punya anggapan yang menyanggah keberadaan itu, yaitu surat Al Ikhlas yang berbunyi :

Qul huwallahu ahad
Katakanlah:"Dia-lah Allah, Yang Maha Esa"

Allaahush shamad :
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu

Lam yalid wa lain yuulad :
Dia tidak beranak dan tidak (pula) diperanakkan

Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad :
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Meskipun saya ke gereja tapi kewajiban saya selaku orang Muslim untuk shalat lima waktu tetap saya kerjakan. Hingga pada suatu hari saya jatuh sakit; sesudah dua minggu sakit dan tidak ada tanda-tanda membaik, akhimya pada hari minggu ketiga, ketika seorang harnba Tuhan mengajak berdoa di Televisi saya spontanitas ambil Alkitab dan tiba-tiba Alkitab terbuka
sendiri di situ, Tuhan beri ayat untuk saya dan saya ingat sekali ayat itu :

"Seorang dara yang menderita pendarahan selama 12 tahun ketika Almasih 'Isa lewat dia menjamah jubahNya, dia percaya dengan menjamah jubahNya dia akan sembuh."

Saya pikir itu kok sama dengan saya. Akhirnya saya tantang Yesus, saya berdoa : "Ya Rabbi 'Isa kalau memang Engkau Tuhan dan bisa menyembuhkan segala macam penyakit, sembuhkanlah saya," dan mujizat terjadi besoknya, saya telah sembuh.
Akhirnya saya kaji lagi surat Al-Ikhlas yang menjadi sanggahan, untuk percaya tentang Isa Al-Masih itu dan saya bandingkan dengan kisah kehidupan Isa Putra Maryam, dari mulai kelahiran,mujizat-mujizatNya, sampai kepada kematian dan kebangkitanNya kembali bahkan kedatanganNya yang kedua kali. Yang lebih melekat di hati saya, adalah Isa Putra Maryam bisa menghidupkan orang yang sudah mati, kalau manusia bisa seperti itu, dia pasti takabur apalagi kalau tidak ada dasar kasih dalam hatinya dan yang berkuasa atas hidup matinya manusia hanya Penciptanya sendiri yaitu Allah.
Dari kesemua ayat-ayat Al-Ikhlas itulah saya bisa membuktikan kalau Isa (Yesus) itu adalah Allah. Tuhan bukakan mata rohani saya, yang selama ini tertutup oleh illah-illah zaman ini dan saat itu bisa percaya bahwa Isa Almasih (Yesus Kristus) tidak hanya nabi tapi Dia juga benar-benar Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pada suatu hari saya butuh legalisir ijazah saya di Sukabumi untuk melanjutkan sekolah di Bandung; saya harus pergi ke sekolah saya yang dulu, di mana saya sekolah dan mesantren. Ketika saya minta legalisasi,entah kenapa surat kelakuan baik saya dari Kepolisian terbaca oleh mereka dan di situ agama saya tertulis Kristen Protestan sedangkan ijazah saya dari Tsanawiyah; akhirnya bukan terima legalisasi tapi malah berdebat dengan guru-guru dan Ustad saya, akhirnya saya pulang ke Bandung dengan tangan hampa.

Setelah saya bisa percaya bahwa Isa itu Tuhan dan Rabboni , tantangan pertama malah datang dari orang Kristen sendiri. Saya dulu menilai orang-orang Kristen yang suka ke gereja itu baik-baik karena ada ajaran kasih tapi ternyata tidak, saya pernah dimaki-maki dan diolok-olok "Kamu jadi Kristennya pura-pura, mana mungkin orang pesantren bisa masuk Kristen, dasar tukang pelet, tukang santet dll".

Dari kesedihan itulah saya ingin pulang ke rumah untuk mengadu ke orang tua saya, tapi apa yang saya dapati ketika saya sampai di rumah, semua keluarga menjauhi, saya heran kenapa semuanya berubah seperti ini, bahkan ketika orang tua saya bilang: "Kamu dikasih apa sih sama mereka, sampai kamu bisa menjual agama kamu dan masuk Kristen?" Saya kaget orang tua saya tahu dari mana? Dan dikiranya saya masuk Kristen dikasih supermi atau dikasih apa saja sama gereja, seperti apa yang mereka sangka selama ini, bahwa orang Islam masuk Kristen dirayu atau dikasih uang atau pula dikasih makanan.

Dan caci maki pun keluar, ayah saya bilang: "Aku tidak pernah menyangka kamu bisa jadi kayak gini, kalau kamu berbuat dosa kayak apapun masih bisa diampuni tapi ini dosa murtad, dosa yang tidak bisa diampuni lagi, dulu aku bangga kamu bisa ngajar-ngajar ngaji, dipakai di masyarakat tapi sekarang tidak ada artinya lagi, aku sampai disidang oleh ketua yayasan dan guru-guru disitu dimaki-maki gara-gara kamu masuk Kristen, kamu sudah benar-benar mencemarkan nama baik dari Pesantren sampai bisa masuk Kristen, entah ditaruh di mana mukaku dan nama baik keluarga ini sama kamu, kamu kalau binatang itu sudah mesti dibunuh saking sudah benar-benar mencemarkan nama baik, sampah di pinggir jalan masih bisa berharga, tapi kamu tidak ada harganya sama sekali, dan biar kamu tahu nama kamu itu sudah ayah masukkan proposal dan dikirim ke Menteri Agama "
Untuk apa ??? Tanyaku, biar suatu saat kalau terjadi apa-apa sama kamu, saya sebagai orang tua sudah tidak mau bertanggung jawab lagi gara-­gara kamu masuk Kristen.

Bagaikan disambar geledek di siang bolong, kenapa mereka tega seperti itu, dan lengkaplah sudah penderitaan saya waktu itu, rupanya setelah kejadian legalisasi ijazah itu, ketua yayasan langsung memanggil orang tua saya, hingga akhirnya mereka sepakat nama saya dimasukkan proposal dan di kirim ke Departemen Agama, setelah tahu seperti itu, saya tidak ada pilihan
lain lagi selain pergi dari rumah itu dan bertekad dalam hati "Ya Rabboni 'Isa, saya tidak akan meninggalkan Engkau, walau pun orang tua saya atau saudara-mara mengabaikan saya. Hanya padamulah Tuhan aku serahkan segala bebanku ini". Tuhan Allah telah amat baik kepada diri saya. Walau pun saya telah pergi tanpa dibekali apa-apa oleh ibu dan bapa, Tuhan Allah Bapa syurgawiku tidak pernah mengabaikan saya! Halleluyah! Alhamdullilah! Sejak saat itu Allah Bapa syurgawilah yang telah membekali saya setiap kali baik dari segi rohani dan fisikal, dan Dia tidak pernah mungkiri janji-janjiNya kepada setiap domba-dombanya termasuk saya!

Sehingga akhirnya tibalah waktunya bagi saya untuk menyatakan iman percaya saya kepada Al-Masih 'Isa sebagai Tuhan dan Juruselamat saya melalui Baptisan Kudus di gereja GKI Jabar di Bandung pada bulan Desember 1994, setelah selama sembilan bulan belajar katekisasi. Setelah selesai baptisan itu saya berdoa, "Tuhan, terima kasih karena Engkau telah memeteraikan saya, tetapi saya tidak ingin hanya saya saja yang selamat, saya pun ingin keluarga dan saudara-saudara saya diselamatkan, dan saya ingin menjadi Penginjil, untuk memberitakan kabar keselamatan yang berasal dari Engkau seperti yang telah saya terima".

Dan ajaib sekali Tuhan kita itu, Dia kirim dua orang ibu dengan membawa buku-buku penginjilan banyak sekali, padahal
sebelumnya saya tidak pernah mengenal dan sama sekali belum pernah bertemu dengan dua orang ibu itu, dan itu merupakan sukacita yang sangat besar sekali saya rasakan, sebagai jawaban dari doa saya untuk menjadi penginjil, dan puji Tuhan saya diperkenankan belajar di Pusat Latihan 'Christian Centre Nehemia' Jakarta dan dari apa yang saya alami saya kesimpulan :

1.Tidak ada kekuatiran dalam nama Rabbi 'Isa.

2. Kita tidak bisa bersandar pada kekuatan manusia sekalipun itu orang tua sendiri.

3. Dan keselamatan tidak bisa kita peroleh dengan amal baik kita atau dengan cuba mengumpul pahala sebanyak-banyaknya, karena keselamatan itu suatu anugerah dan hanya ada di dalam nama 'Isa Al-Masih.

Demikianlah kesaksian ini saya tulis, sebagai rasa ucapan syukur saya karena Rabboni Al-Masih 'Isa Putra Maryam telah
menyelamatkan saya dari lembah dosa dan kegelapan dan yang telah membawa ke dalam terang Allah yang ajaib.

Amin ya robbal alamin,
Hormat kami,
Kartini A.I.
create by :
www.terangdunia.com/

Selayang Pandang Mengenai GMKI

Berdirinya CSV tidak terpisahkan dengan peranan Ir. C.L Van Doorn seorang ahli kehutanan yang mempelajari aspek sosial dan ekonomi khususnya ilmu pertanian dan kemudian memperoleh doktor di bidang ekonomi serta sarjana di bidang teologi.

Dengan adanya mahasiswa di Indonesia dan bersamaan dengan berdirinya School tot Opleiding van Indishe Artsen (STOVIA) tahun 1910-1924 di Batavia. Selain itu, berdiri juga Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya (1913), Sekolah Teknik di Bandung (1920), Sekolah Kedokteran Hewan di Bogor (1914) dan Sekolah Hakim Tinggi di Jakarta (1924). Pada tahun 1924 terbentuklah Batavia CSV dan inilah cabang CSV yang pertama.

Kurun waktu 1925-1927 para mahasiswa di Surabaya yang tergabung dalam Jong Indie aktif melakukan penelaahan Alkitab. Kelompok ini bersama Batavia CSV mengadakan Konferensi di Kaliurang pada bulan Desember 1932. Pembicara-pembicara utama kegiatan tersebut adalah Dr. J. Leimena, Ir. C.L van Doorn dan Dr. Hendrik Kraemer.

Jumlah anggota CSV op Java dalam kurun waktu 1930-an sekitar 90 orang. Cabang-cabangnya baru ada di kota-kota perguruan tinggi di Jawa (Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya). Walaupun kecil dan lemah namun keberadaan CSV op Java telah berhasil meletakkan dasar bagi pembinaan mahasiswa Kristen yang akan dilanjutkan GMKI di kemudian hari.

Sejumlah mahasiswa kedokteran dan hukum di Jakarta memutuskan untuk membentuk suatu organisasi mahasiswa Kristen. Organisasi itu untuk menggantikan CSV op Java yang sudah tidak ada. Dalam pertemuan di STT Jakarta tahun 1945, dibentuk Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKI) dengan maksud keberadaannya sebagai Pengurus Pusat PMKI. Dengan demikian Dr. J. Leimena dipilih sebagai Ketua Umum dan Dr. O.E Engelen sebagai Sekretaris Jenderal. Tetapi karena Leimena sibuk dengan tugas-tugas sebagai Menteri Muda Kesehatan, tugas-tugasnya diserahkan kepada Dr. Engelen.

Kegiatan-kegiatan PMKI tidak jauh berbeda dengan CSV op Java dengan Penelahaan Alkitab salah satu inti kegiatannya. Keanggotaan PMKI sebagian besar adalah mahasiswa yang memihak pada perjuangan kemerdekaan. Terbentuklah PMKI di Bandung, Bogor, Surabaya dan Yogyakarta (setelah UGM berdiri) segera menyusul.

Tak lama setelah PMKI lahir, awal tahun 1946 muncul organisasi baru dengan menggunakan CSV di Bogor, Bandung dan Surabaya dengan “CSV yang baru” dan tidak menjadi tandingan PMKI. Kesamaan kedua organisasi ini adalah merealisasikan persekutuan iman dalam Yesus Kristus dan menjadi saksi Kristus dalam dunia mahasiswa.

Masuknya Jepang ke Indonesia mengakhiri eksistensi CSV op Java secara struktural dan organisatoris. Pemerintah pendudukan Jepang melarang sama semua kegiatan-kegiatan organisasi yang dibentuk pada jaman Belanda. Secara prakatis CSV op Java tidak ada lagi sejak tahun 1942. Sepanjang sejarahnya, CSV op Java dipimpin oleh Ketua Umumnya Dr. J. Leimena (1932-1936) serta Mr. Khouw (1936-1939). Sedangkan sekretaris (full time) dijalankan Ir. C.L Van Doorn (1932-1936).

Dengan berakhirnya pertikaian Indonesia dengan Belanda, tahun 1949 berakhir pula “pertentangan” antara PMKI dengan CSV baru tersebut. Tanggal 9 Februari 1950 di kediaman Dr. J. Leimena di Jl. Teuku Umar No. 36 Jakarta, wakil-wakil PMKI dan CSV baru hadir dalam pertemuan tersebut. Maka lahirlah kesepakatan yang menyatakan bahwa PMKI dan CSV baru untuk meleburkan diri dalam suatu organisasi yang dinamakan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan mengangkat Dr. J. Leimena sebagai Ketua Umum hingga diadakan kongres. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan sangat penting dan suatu moment awal perjuangan mahasiswa Kristen yang tergabung dalam GMKI maka pada kesempatan itu Dr. J. Leimena menyampaikan pesan penting yang mengatakan:

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
"Tindakan ini adalah suatu tindakan historis bagi dunia mahasiswa umumnya dan masyarakat Kristen pada khususnya. GMKI menjadilah pelopor dari semua kebaktian yang akan dan mungkin harus dilakukan di Indonesia. GMKImenjadilah suatu pusat sekolah latihan (leershool) dari orang-orang yang mau bertanggungjawab atas segala sesuatu yang mengenai kepentingan dan kebaikan negara dan bangsa Indonesia. GMKI bukanlah merupakan Gesellschaft, melainkan ia adalah suatu Gemeinschaft, persekutuan dalam Kristus Tuhannya. Dengan demikian ia berakar baik dalam gereja, maupun dalam Nusa dan Bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari iman dan roh, ia berdiri di tengah dua proklamasi: Proklamasi Kemerdekaan Nasional dan Proklamasi Tuhan Yesus Kristus dengan Injilnya, ialah Injil Kehidupan, Kematian dan Kebangkitan"
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia

GMKI kemudian berkembang dengan berdirinya cabang-cabang GMKI di berbagai wilayah Indonesia. Dalam transisi kepemimpinan nasional di era Ode Lama, Orde Baru, era Reformasi dan pada masa kini, GMKI mencoba memainkan perannya sebagai wujud semangat nasionalismeekumenisme. dan

Perkembangan

Saat ini, GMKI memiliki 65 cabang yang tersebar di kota-kota perguruan tinggi di berbagai provinsi di Indonesia. GMKI merupakan tempat persiapan kader dengan kompetensi dalam iman, ilmu, kepemimpinan dan kepekaan sosial yang dapat diaplikasikan dalam tiga medan pelayanannya yakni, gereja, perguruan tinggi dan masyarakat.

Dalam melakukan Pelayanannya, GMKI membangun kerjasama dengan beberapa institusi seperti Gereja, Universitas, LSM, MEDIA, aktif dalam Kelompok Cipayung (GMKI, GMNI, PMKRI, HMI, PMII) dan FKPI (Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia) dengan berbagai program kerjasama. GMKI juga berafiliasi dengan Federasi Mahasiswa Kristen se-Dunia (WSCF) dan saat ini membangun jaringan dengan Perkumpulan Organisasi Kristen dalam bidang Sosial se-Asia (ACISCA).

Creatr By : Mathias Moreno

Berita Duka Cita Apabila Datang Menghadang

Anak-Ku ,

Bagaimana jika kamu dipanggil untuk meninggalkan salah satu dari jam-jam pelajaran di sekolahmu untuk menerima berita bahwa seseorang yang kamu cintai telah meninggal - orang tua, kakek nenek, saudara perempuan, saudara laki-laki, atau seorang teman baik? Kamu mungkin lebih suka untuk tidak memikirkan hal itu.

Namun mau tidak mau kamu harus berurusan dengan kematian, karena itu adalah hal yang pasti. Namun kematian bukanlah kakhir dari kehidupan bagi orang yang percaya terhadap-Ku. Itu hanya merupakan pintu penghubung antara bumi dan surga. Di bumi banyak hal-hal yang indah, namun ada juga kesukaran dan kesakitan. Kehidupan di surga dipenuhi oleh keindahan, sukacita dan damai abadi. Kamu tidak bisa sampai di surga karena menjadi orang yang cukup baik. Kamu hanya bisa sampai disana dengan mempercayai Yesus. Ia dalah pintu

Bapa Abadimu,
Tuhan

Jawab Yesus kepadanya,"Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku ia akan hidup walaupun ia sudah mati (Yohanes 11:25)

Profil Tokoh

Mengenai Saya